Saturday, January 17, 2015

Penerangan Sempurna

Penerangan Sempurna
(Vajra Acarya Guru Rinphoce Lian Shen)

Pertama-tama memberikan penghormatan dan sembah sujud yang setinggi- tingginya kepada Mula Guru Yang Mulia Vajra Acarya Guru Rinphoce Lian Sheng, sembah sujud kepada para Guru Silsilah Zhen Fo Zhong diantaranya Yang Mulia Bikhsu Liao Ming, Yang Mulia Gyalwa Karmapa XVI, Yang Mulia Guru Sakya Zheng Kong dan Yang Mulia Guru Tubhten Dhargye, sembah sujud kepada seluruh Yidam, sembah sujud kepada seluruh Buddha, Bodhisattva, Mahasattva, Dharmapala dan seluruh Dewa yang ada di altar mandala.

Topik yang akan di bahas pada hari ini adalah hal yang sangat penting yaitu penerangan sempurna didalam Tantra. Sejak dahulu kala sampai sekarang, Sakyamuni Budha adalah satu satunya orang yang memproklamasikan pencapaian penerangan sempurna selagi masih hidup. Bagaimanakah Sakyamuni Budha mencapai penerangan sempurna?

Ketika sedang duduk dibawah pohon Bodhi dari malam hari sampai pagi dini hari, Sakyamuni Budha melihat sebuah bintang bercahaya disebelah timur. Pada saat itulah beliau mengetahui bahwa beliau telah mencapai penerangan sempurna.

Kalau begitu, kalian semua seharusnya dapat mencapai penerangan sempurna dengan mudah! Malam ini kalian cukup pergi mencari sebuah pohon, duduk dibawahnya dengan menghadap ke timur [tawa pendengar], dan mungkin anda akan melihat sebuah bintang terang. Pada saat itu anda bisa berkata bahwa anda telah mencapai penerangan sempurna!

Sesungguhnyalah, banyak guru guru Dharma dan para sadhaka yang telah berusaha menyelidiki bintang apakah di sebelah timur yang dilihat oleh Sakyamuni Budha. Saya adalah seorang yang terlatih di bidang pengukuran tanah. Jadi saya telah belajar tentang ilmu astronomi. Saya dulu berpikir bahwa bintang yang dilihat Sakyamuni Budha itu pastilah sebuah bintang penting dibidang astronomi dan tercatat di buku buku astronomi. Dengan melakukan riset, seharusnya kita dapat menemukan nama bintang tersebut.

Biarlah hari ini saya memberitahukan kalian suatu hal apa yang di beritahu oleh Mahaguru yakni : apa yang dilihat oleh Sakyamuni Budha bukanlah sebuah bintang atau bulan atau matahari! "Bintang" yang dilihat oleh Sakyamuni Budha adalah "sifat asal" (original nature) dirinya sendiri. Yang dilihat oleh Sakyamuni Budha itu adalah "sifat Budha" yang merupakan "sifat asal diri" sendiri. Itulah yang disebut penerangan sempurna.

Penerangan sempurna yang dicapai oleh Sakyamuni Budha selagi duduk dibawah pohon dikenal oleh Budhisme sebagai "melihat sifat Budha didalam diri sendiri". Di dalam Taoisme, hal yang sama dikenal sebagai "melihat roh diri sendiri".

Jadi ingatlah bahwa dalam perihal penerangan sempurna, yang disebut "melihat bintang" sebenarnya adalah melihat "tubuh bercahaya dari sifat Budha diri sendiri". Penerangan sempurna hanya dapat dikonfirmasi oleh diri sendiri dan para Budha.

Sudah 2500 tahun semenjak Sakyamuni Budha mencapai penerangan sempurna. Sejak saat itu, sepertinya tidak ada orang lain yang memproklamasikan diri mencapai penerangan sempurna. Sekarang, di jaman ini, ada seseorang yang mengikuti jejak Sakyamuni Budha memproklamasikan dirinya mencapai penerangan sempurna. Orang itu adalah Lu Shengyen.
Sebenarnya, siapakah yang dapat memutuskan siapa yang telah mencapai penerangan sempurna?

Penerangan sempurna hanya dapat diproklamasikan oleh diri sendiri, tidak oleh orang lain.
Mengapa? Karena hanya seorang Budha dana orang itu sendiri yang dapat mengkonfirmasi tingkat kesadaran dan tingkat keberhasilan orang itu. Hanya orang itu sendiri yang dapat mengkonfirmasinya dan hanya para Budha yang mengetahui apakah yang dikatakan orang itu benar atau tidak. Karena saya memproklamasikan bahwa saya telah mencapai penerangan sempurna, orang mungkin ingin mengetahui bagaimana rasanya mencapai penerangan sempurna? Bila anda bertanya kepada banyak rahib/biksu dan orang kebatinan terkenal, mereka belum tentu dapat memberikan penjelasan.

Karena saya telah mencapai penerangan sempurna, saya dapat menjelaskannya. Karena itu, topik kita hari ini adalah penerangan sempurna didalam Tantrayana semua dijelaskan oleh Mahaguru.

Didalam Tantrayana dan Zen, seorang yang telah mencapai penerangan sempurna tidak berbicara seperti orang biasa. Di dalam metode Zen, dialog sering digunakan untuk membuktikan tingkat pencapaian rohani seseorang ataupun penerangan sempurna.
Guru Tantra saya, Guru Tubten Taerchi, menggunakan dialog untuk mengkonfirmasi keberhasilan saya mencapai penerangan sempurna.

Dalam perjalanan saya yang terakhir ke Hongkong, saya bertemu dengan guru saya itu dan ia menguji saya dengan tiga pertanyaan. Pertanyaannya yang pertama adalah, "Lu Shengyen, saya sekarang adalah seorang pengangguran. Bagaimana kalau engkau memperkerjakan saya sebagai "penyala dupa"? Di vihara kita ini, seorang "penyala dupa" adalah orang yang bangun sangat pagi sekali untuk menyalakan dupa dan lampu sebagai persembahan kepada para Budha. Jadi bagaimana saya menjawab guru saya itu? Jawaban saya adalah, "Guru, semua orang di dunia ini adalah penyala dupa". Bila seseorang tidak mengerti pertanyaan yang diajukan itu, ia mungkin akan menjawab, "Oh! Guru pasti bercanda. Guru begitu kaya raya. Mengapa guru ingin menjadi seorang penyala dupa?"

Seorang yang telah mencapai penerangan sempurna akan menjawab kepada gurunya bahwa semua orang di dunia adalah penyala dupa. Ketika guru Tubten Taerchi mendengar jawaban saya, ia berkata, "Baiklah, engkau lulus ujian pertama."

Sebenarnya umat Budhist atau sadhaka manakah yang tidak berurusan dengan kegiatan memberikan persembahan kepada TriRatna (Budha, Dharma, dan Sangha)? Karena itu, semua orang adalah penyala dupa.

Kemudian guru Tubten Taerchi mengajukan pertanyaan kedua kepada saya, "Lu Sheng-yen, siapa wanita yang engkau kencani akhir akhir ini?" Bila seseorang tidak mengerti apa yang siapa wanita yang engkau kencani akhir akhir ini? Bila seseorang tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh sang guru, ia bisa berpikir, "Karena sang guru mempunyai mata batin, ia bisa membaca pikiran saya dan tahu apa yang telah saya lakukan." Lalu, ia bisa menjadi terpaku dan kalah. Bagaimanakah saya menjawab beliau? Saya berkata, "Guru, tentu saja saya mempunyai kenalan wanita sewaktu saya muda dahulu, tetapi sekarang saya hanya berkencan dengan para Budha dan Bodhisattva."

Saya harus memberitahu kalian bahwa seorang yang telah mencapai penerangan sempurnahanya berkencan dengan Budha dan Bodhisattva. Ketika sang guru mendengar jawaban saya, ia mengatakan bahwa saya lulus ujian kedua.

Pertanyaan ketiga adalah, "Lu Sheng-yen, karena engkau selalu menempati kursi utama setiap kali menyelenggarakan upacara Dharma atau memberikan ceramah, dimana gurumu duduk seharusnya?" Orang bisa berpikir, "Betul juga ya. Dimana sang guru seharusnya duduk?" Bila guruku duduk ditempat yang sekarang diduduki Acarya Lian Shi sekarang ini, berarti ia duduk dibawah saya. Bila sang guru duduk ditengah ditengah para pendengar, juga tidak baik. Jadi, bagaimanakah seharusnya? Dimana sang guru duduk seharusnya? Saya menjawab, "Guru sebaiknya duduk diatas kepala saya!" Itulah jawaban yang benar. Jawaban yang diberikan oleh seorang yang telah mencapai penerangan sempurna tidaklah seperti jawaban yang diberikan oleh orang awam. Tetapi, ternyata sang guru masih belum puas dengan jawaban saya dan berkata lagi, "Bila aku duduk diatas kepalamu, bagaimana kalau sampai aku ingin kencing?" Seorang yang telah mencapai penerangan sempurna tentu saja tidak menjawab bahwa ia akan meminum air kencing gurunya itu. [tawa pendengar]

Saya menjawab guru saya, "Itu berarti guru ingin memberkati saya dengan susu Dharma!" [tepuk tangan pendengar]

Setelah dialog itu, guru Tubten Taerchi memutuskan untuk memberikan kepada saya lima hadiah sebagai suvenir dalam pembabaran Dharma. Ke lima suvenir tersebut sungguh bernilai dan saya terutama sekali menyukai dua dari ke lima suvenir tersebut. Yang sebuah adalah sebuah kaca pembesar yang digunakan oleh Lama Tubten di Tibet.

Kaca pembesar itu terbuat dari alat pemegang dari giok (kumala) dan frame dari emas. Kaca pembesar ini bukanlah alat bantu untuk membaca bagi orang tua. Sewaktu menerimanya, saya berkata kepada beliau, "Guru, terima kasih karena telah mewariskan kepada saya "empat ikrar tak terhingga" (the four immeasureable vows)". Kaca pembesar digunakan untuk "membesarkan" hati seseorang sampai tak terhingga luasnya. Bukankah itu sama dengan "empat ikrar tak terhingga"?

Kemudian guru memberi saya sebuah penjepit dasi. Apakah alasan saya menyukai suvenir yang satu ini? Karena suvenir ini terbuat dari emas murni dengan permata dadu yang sangat besar dilekatkan. Setelah menerima suvenir ini, cara menjawabnya bukanlah, "Guru, terima kasih untuk penjepit dasi dari emas ini." Jawaban yang benar adalah, "Guru, terima kasih karena telah mewariskan kepada saya 'Sila'". Mengapa penjepit dasi merupakan simbol dari Sila? Penjepit dasi digunakan untuk "menjepit" hati seseorang yang merupakan kegunaan dari Sila.

Lalu, sang guru juga memberikan saya sebuah arca gajah kecil. Salah satu nama kecil Sakyamuni Budha adalah "Raja Gajah". Dengan memberikan saya sebuah gajah kecil, sang guru mengangkat saya menjadi seorang "pangeran Dharma". Apakah yang dimaksud dengan pangeran Dharma? Seorang pangeran Dharma membabarkan Dharma di setiap tempat ia berada. Jadi, sewaktu menerima arca gajah tersebut, saya berterima kasih kepada guru saya dengan berkata, "Guru, terima kasih karena telah mengangkat saya sebagai pangeran Dharma."

Dialog antara seorang yang telah mencapai penerangan sempurna dengan gurunya sangatlah bernada Zen. Saya harap kalian semua mengerti bahwa seorang yang telah mencapai penerangan sempurna mengajar dengan cara yang unik.

Seorang yang telah mencapai penerangan sempurna adalah seorang yang telah menyatu dengan Budha. Karena itu, ia berpikir seperti seoran Budha, berbicara seperti seorang Budha, dan bertingkah laku seperti seorang Budha. Ini disebut "Yi Wei" (satu rasa). Ini merupakan sebuah fenomena dari penerangan sempurna.

Fenomena kedua dari penerangan sempurna adalah bahwa tubuhnya menjadi sangat penuh dengan chi. Kemanapun ia pergi, apapun yang terjadi, chi orang tersebut selalu hadir dan memancar keseluruh penjuru. Ini karena tidak ada lagi perbedaan antara orang tersebut dengan "chi". Ia adalah chi dan chi adalah dirinya.

Fenomena lain dari penerangan sempurna didalam Tantrayana adalah bahwa seorang yang telah mencapai penerangan sempurna pasti sudah berhasil dalam sadhana Po Wa. Ini adalah "terbukanya ubun ubun kepala"nya. Tujuan dari sadhana Po Wa adalah membuka ubun ubun kepala. Orang yang telah mencapai penerangan sempurna telah terbuka ubun ubun kepalanya dan juga dapat menolong orang lain membuka ubun ubun kepala mereka. Sewaktu kalian pulang kerumah, harap kalian jangan mencoba membuka ubun ubun kepala kalian dengan palu dan paku. Latihlah Po Wa untuk membuka ubun ubun kepala kalian.

Fenomena lain dari penerangan sempurna adalah "rasa Dharma" (Dharma taste). Penekun Taoisme dan Budhisme sering berbicara tentang 'rasa dharma'. Apakah ada yang tahu 'rasa dharma' itu? Bila seseorang tidak pernah merasakan "rasa dharma", tentunya ia tidak pernah tahu apa itu. Bila anda pergi ke kuil dan menanyakan para biksu dan biksuni apakah 'rasa dharma' itu, mungkin mereka akan menjawab, "rasa dharma adalah rasa dharma".

Banyak orang telah mendengar istilah 'rasa dharma', tetapi lebih banyak lagi orang yang tidak tahu apakah itu. Biarlah saya beritahukan kalian bahwa orang yang membina diri (sadhaka) yang telah merasakan 'rasa dharma' tidak akan meninggalkan jalan pembinaan diri. Mereka tidak mungkin menyerah ditengah jalan pula. Apakah kalian bisa menebak apakah 'rasa dharma' itu? Sulit untuk menjelaskan apakah itu karena untuk mengetahuinya -- orang harus mengalaminya sendiri. Tetapi, bila tidak saya jelaskan dengan serinci mungkin, kalian akan hanya mendapatkan pengetahuan yang samar samar.

'Rasa dharma' itu berkaitan dengan 'chi'. Orang lalu mungkin berpikir, "Kalau begitu, mudah saja menjelaskannya. 'Rasa dharma' adalah napas." Sesungguhnya, memang tidak sukar. Tetapi 'Rasa dharma' bukanlah tentang apa yang kita hirup dalam pernapasan, melainkan mengenai satu dari efek yang dihasilkan oleh pernapasan yang halus yaitu chi.

Dalam pembinaan rohani, kebahagiaan atau kenikmatan dihasilkan sewaktu chi atau udara halus yang kita hirup itu memasuki nadi nadi di tubuh kita. Inilah yang disebut 'rasa dharma'.
Makanan dari makhluk makhluk suci adalah 'rasa dharma'. Sewaktu bermeditasi, kenikmatan terbesar yang dialami oleh seorang sadhaka adalah ketika chi bergerak di seluruh tubuh, membuka semua nadi. Kenikmatan yang dihasilkan sungguh tak terhingga dan disebut "kebahagiaan yang tak ada duanya". Kenikmatan seperti ini membuat seseorang seperti melayang di angkasa dan mengendarai awan awan.

Orang yang telah mencapai penerangan sempurna tahu apakah 'rasa dharma' itu. Sadhaka biasa yang belum mencapai penerangan sempurna belum mengalaminya dan karenanya tidak dapat menjelaskannya.

Biarlah saya beritahukan kalian bahwa ketika seseorang dapat mengalami 'rasa dharma' itu, ia tidak akan mau bolos dari bermeditasi, satu hari sekalipun. Sebaliknya, ia akan mau
bermeditasi 10 kali sehari dan akan merasa enggan untuk keluar dari samadhi. Bila seseorang telah kehilangan tekad untuk membina diri, sudah jelas bahwa ia belum pernah merasakan 'rasa dharma' itu. Orang yang telah merasakan 'rasa dharma' adalah seorang suci dan sudah jelas ia tidak akan menyimpang dari jalan keBudhaan.

Ada rahasia rahasia penting didalam sadhana Tantrayana. Biasanya, di aliran Sutrayana, orang hanya bersadhana dengan membaca sutra dan menyebut nama Budha. Didalam sadhana Tantrayana dalam, seorang siswa melatih chi, nadi, dan bindu. Ada sadhana pernapasan bhadra kumbha yang menggunakan perputaran pernapasan untuk membangunkan kundalini. Kundalini digunakan untuk membawa bindu yang digunakan untuk membuka cakra cakra. Terbawanya bindu keseluruh tubuh juga menghasilkan 'sinar terang benderang' didalam tubuh.
Apakah bindu itu? Bindu adalah air mani (ching) pada pria atau sel sel telur (hsueh) pada
wanita. Ketika bindu ini bergabung dan bergerak untuk membuka ke lima cakra, nadi tengah akan terlancarkan. Ke lima cakra adalah cakra dahi, cakra tenggorokan, cakra hati, cakra pusar (Tan Tien) dan cakra akar. Dengan terbukanya nadi tengah, orang itu menjadi
bercahaya. Ketika cakra pusar (Tan Tien) terbuka dan mekar bagaikan bunga teratai, sang
siswa akan dapat mencapai keadaan "samadhi". Ketika ke lima cakra terbuka semuanya, sang siswa dapat menyatu dengan Budha di lima penjuru. Lewat abhisekani (pemberkatan) dari ke lima Budha, sang siswa mendapatkan kekuatan kekuatan mistik dan "penguasaan diri".
Bagaimana caranya membangunkan kundalini? Dengan mengkonsentrasikan pikiran ke satu titik.

Bagaimana membuka cakra pusar (Tan Tien) dan akhirnya kelima cakra? Dengan menggunakan "tanpa pikiran" [wu-nien, no thought].
Satu rahasia yang saya buka untuk kalian adalah tidak ada sadhana yang tidak mengharuskan pikiran untuk dikonsentrasikan.

Bila seseorang ingin terlahir di surga Sukhawati, ia harus mendisiplinkan pikirannya ke satu titik. Bila ia ingin mencapai penerangan sempurna menggunakan metode Zen, ia harus terlebih dahulu mencapai "kestabilan pikiran". Dari kestabilan pikiran, datang kebijaksanaan yang akhirnya akan membawanya kepada penerangan sempurna.

Sewaktu saya bermeditasi, asalkan saya memasuki keadaan "tanpa pikiran" [no thought],

semua 'ching' dalam tubuh segera berkumpul di dahi. Pada saat itu, perbatasan antara dunia luar dan dunia diri hilang sehingga saya menyatu dengan lautan sinar alam semesta.
Inilah rahasia rahasia Tantrayana didalam sadhana: Dengan menggerakkan chi lewat pernapasan, pertama mengkonsentrasikan pikirannya ke satu titik dan kemudian ke 'tanpa pikiran'. Dengan cara ini, siswa dapat mencapai penerangan sempurna dan menjadi seorang Budha.

Saya telah melakukan pembinaan diri selama puluhan tahun. Penerangan sempurna yang telah saya capai adalah hasil sadhana yang tekun meliputi tubuh, pikiran, dan roh. Bukan seperti yang disampaikan beberapa orang bahwa saya cukup tidur di malam hari dan mendapatkan diri mencapai penerangan sempurna esok harinya.

Aspek yang paling penting dalam Dharma Tantrayana Cen Fo Cung adalah "praktek" (mempraktekkan metode yang telah diajarkan). Seorang siswa harus mempraktekkan metode yang diajarkan untuk mencapai penerangan sempurna. Karena saya telah berkunjung ke banyak surga dan neraka, saya dapat meyakinkan kalian semua bahwa "praktek" adalah satu satunya cara mencapai penerangan sempurna. Saya dapat mengajar kalian semua bagaimana menyeberang ke tepi seberang dan terlahir di alam Sukhawati.
Setiap orang, setiap siswa dapat mencapai keberhasilan melalui "praktek".
Ada yang bertanya kepada saya, "Apakah guru guru saya juga telah mencapai penerangan sempurna?"

Jawaban saya adalah, "Tentu saja. Bila seorang siswa berhasil mencapai penerangan sempurna, bagaimana mungkin gurunya tidak mencapainya?" Saya berharap di masa yang akan datang -- semua siswa dapat membuktikan bahwa sang guru merupakan seorang yang telah mencapai penerangan sempurna dengan dirinya sendiri mencapai penerangan sempurna.

Om Mani Padme Hum 

Bodhisattva Dimu


Bodhisattva Dimu
(Vajra Acarya Guru Rinpoche Lian Shen)
 
Bodhisattva Dimu, disebut juga Ibu Pertiwi ( Dimu Niang-niang ) , Beliau adalah seorang Bodhisattva yang sangat agung dan mulia. Tangan kanan memegang vyajana, tangan kiri memegang Bagua, dan kaki menapak di atas bumi, melambangkan seluruh dunia : Sumeru, Empat Benua Besar, Delapan Benua Kecil, Tujuh Samudera Kebajikan, Tujuh Samudera Banyuwangi, semuanya berada dalam kekuasaan Beliau.
 
Semua emas, perak, perunggu, besi, tembaga, wolfram, mangan, mutiara, batuan berharga, koral dan semua ratna manikam dihasilkan oleh bumi ini, merupakan milik dari Bodhisattva Dimu, oleh karena itu manusia harus menghormati Devata dari dunia ini, memandangnya sebagai Ibu, oleh karena itulah kita menyebutnya Ibu Pertiwi ( Di-mu )
 
Dimu adalah Dewa Rejeki teragung, sebab termasuk semua bangunan, mobil, semua barang kebutuhan, pangan, sandang, alat transportasi, tempat tinggal, piranti untuk tidur dan lain sebagainya , semua dihasilkan oleh bumi, dengan kata lain, semua dikuasai oleh Bodhisattva Dimu.
 
Sutra Dimu menyatakan bahwa Dimu adalah yang paling agung dan mulia, Anda mendambakan harta kekayaan, jika tidak memohon pada Dimu, maka hendak memohon ke siapa lagi ?
 
Yang paling makmur di surga adalah Caturmaharajika dan Sakradevanam Indra ; Yang paling makmur di lautan adalah Raja Naga ; Sedangkan yang paling makmur di bumi adalah Dewa Gunung, Drdha Prthivi, serta para Dewa Bumi seluruh lokasi.
 
Namun Caturmaharajika di Surga, mereka masih termasuk Surga Bhumi-avacara, berlokasi di pinggang Gunung Sumeru, dan masih termasuk dalam kekuasaan Bunda Dimu.
 
Raja Naga di samudera, tentu saja termasuk kekuasaan Bunda Dimu ;
 
Bahkan semua Dewa Gunung, Dewa Bumi, semua Dewa Rejeki, baik itu Dewa Bumi Lima Penjuru, Panca Jambhala, serta semua Dewa Rejeki, tidak ada satupun yang terlepas dari kekuasaan Bunda Dimu.
 
Oleh karena itu , hari ini membahas mengenai Menyambut Dewa Rejeki, ketahuilah bahwa Dewa Rejeki yang utama adalah Bunda Dimu.
 
Dalam teori Lima Elemen dari Tiongkok, Tanah menghasilkan Logam, Logam dihasilkan oleh Tanah. Bumi ini adalah Ibunda, langit adalah Bapa, dalam Bagua langit adalah Qian dan Bumi adalah Kun, dari Qiankun lahirlah para insan. Oleh karena itu kita wajib menghormati Svarga dan juga wajib menghormati Bumi, ini merupakan hal yang paling penting. Oleh karena itu pahala kebajikan Bodhisattva Dimu sangat agung dan mulia.
 
Dengan Nama Agung Nya kita gunakan sebagai Mantra Hati : "Om Dimu Xidi Hum." Mudranya sama dengan Mudra dari semua Adinata Matrka, Mudra Yaochijinmu juga demikian, Mudra Bodhisattva Dimu juga demikian.
 
Dengan adanya Mudra, Mantra dan Rupa , maka menjadi Sadhana Tantra, oleh karena itu Bodhisattva Dimu merupakan Mahasadhana Avenika kita Zhenfo Zong, juga merupakan Dewa Rejeki Teragung kita.
  
Bodhisattva Dimu mempunyai Tiga Sutra Utama : Dimu Jing, Dimu Zhen Jing, Dimu Miao Jing. Di dalamnya yang terutama adalah, tidak peduli Anda adalah Dewa Rejeki arah mana, seperti kita mengenal Dewa Bumi Lima Penjuru, Panca Jambhala Tantra, Dewa Rejeki Surga, Dewa Rejeki Raja Naga, Dewa Gunung, Drdha Prthivi bahkan Ganesha, Dewa Rejeki Shanti dan Dewa Rejeki Krodha, yang manapun itu, semua ada dalam kekuasaan Dewa Rejeki Bunda Dimu.

Dalam Tantra Tibet dan Tantra Timur tidak dikenal Bunda Dimu, namun dalam kepercayaan Taiwan, Dimu merupakan seorang Bodhisattva yang sangat agung, sedangkan Zhenfo Zong merupakan Tantra dari Taiwan, oleh karena itu Bodhisattva Dimu merupakan Adinata yang sangat dihormati dalam Zhenfo Zong.
 

Friday, January 16, 2015

Pikiran Murni Adalah Kiat Sadhana Tantra Yang Penting

Pikiran Murni Adalah Kiat Sadhana Tantra Yang Penting
(Vajra Acarya Guru Rinphoce Lian Shen)

Sebagai Tantrika apabila di dalam pelatihan jika ada keberhasilan, harus dijaga sebagai rahasia, tak boleh diceritakan kemana-mana. Kalau tidak, lambat laun bisa tak ada keberhasilan!

Ada khalayak bhiksu/bhiksuni pertama-tama meninggalkan keduniawian, bersumpah dengan tulus, tetapi, dalam sesaat muncul di Peking, dan tangannya menggendong seorang anak! Jadi, keyakinannya masih bisa goyah!

Sadhaka Satyabuddha wajib ekasarana, menghormati Mulacharya sebagai hiasan kepala sendiri, saat Mahaguru membabarkan dharma pasti di puncak kepala ada Mulacharya.Ini adalah sraddha murni, baru bisa berhasil!

Tak boleh berkata: "Saya sekarang mewariskan sadhana rahasia padamu, saya yang mewariskan sadhana padamu!"
Itu adalah kehilangan silsilah Mulacharya!

Uang halal, adalah harta dharma yang murni! Menggunakan uang haram untuk menebus karma buruk tidaklah betul! Misalnya: membuat skandal di sebuah perusahaan tapi beranggapan diri sendiri berbuat hal baik, dengan uang haram ini ingin mengikis karma buruk, ini tidaklah mungkin! Menjajakan minyak hasil daur ulang limbah sama dengan melakukan pelanggaran sila merampok & membunuh!

Kita harus menggunakan uang halal baru boleh!

Padmaguru sungguh telah menampakkan diri di hadapan Mahaguru, memberikan abhiseka sejati pada Mahaguru, ini adalah silsilah yidam! Lalu melalui pengesahan acharya dunia manusia! Mahaguru mewariskan dharma sejati, murid dengan kesungguhan hati berpedoman kepada ajaran Y.A., semua bisa berkontak batin!

Murid yang bermimpi tentang Mahaguru, semua merupakan awal dari berkontak batin dengan Mahaguru! Ada kalanya ketika sedang bermimpi, sedang bersamadhi, benar-benar muncul, Mulacharya sudah dapat mewariskan dharma kepada murid! Murid harus berpikiran murni kepada gurunya baru bisa beryukta! Murid tak boleh memata-matai gurunya, itu adalah kelunturan sraddha, itu tidak benar; murid perlu melihat kebaikan dari gurunya!

Murid jika mengritik Mulacharya, tapi berlatih sadhana-Nya, itu sudah tidak berpikiran murni, bagaimana berkontak batin!

Guru saya Karmapa, di biara Rumtek di Sikkim, memelihara banyak burung. Guru berkata: Ini semua adalah murid yang dulu berpaling. Sekarang,
mempelajari kebudhaan dari mula lagi!

Dia sering membawa seekor kambing, yaitu pengikut sang guru di kehidupan lampaunya!
Mahaguru di dunia juga ada batasannya, murid wajib menghargai kedekatan!
Kakek guru memberitahu Mahaguru: Buku dharma di kehidupan lalumu ada padaku. Mau kukembalikan padamu?
Mahaguru berkata: Tak usah!

Akan tetapi, Mahaguru selalu berpikiran murni kepada Kakek guru! Meskipun melihat kekurangan, tidak merasa itu adalah kekurangan. Sebab, ini adalah permainan abhijna guru!
Silsilah yang tak terputus, memiliki kekuatan silsilah, memiliki mudra hati Buddha awal. Ratnamanakumara pewaris Mahamudra, itulah Padmakumara. Mewariskan kepada Vajrapani Bodhisattva, itulah silsilah cahaya terang, juga mewariskannya kepada Padmaguru...juga ada silsilah penakluk Tibet...

Guru mewariskan dharma, kamu sedang tidur, jadinya tidak ada pewarisan lisan!
Kamu sudah berlatih Sadhana Guru Yoga, yaitu mendapatkan kekuatan adhisthana silsilah, setiap hari bersadhana, barulah aliran abhiseka selamanya tidak kering! Begitu pula dengan yidam & dharmapala! Adhisthanabala datang dari Mula yidam! Bersadhana dharmapala, Dia membantu sadhaka meredam bencana, tak terkena santet!

Di Zhenfo Miyuan, Mahaguru memiliki pratima Shadakshari Lokeshvara, Machig Labdron, ...para yidam, dan Vajrayogini membangkitkan kundalini Mahaguru, yaitu yidam sadhana dalam! Setiap kali Mahaguru ingin pergi, Mahaguru menyampaikan sampai jumpa baru pulang! Di rumah pun demikian!

Mahaguru tak pernah meninggalkan para yidam. Jadi, Trimula senantiasa mendampingi, setiap kekuatan pada tubuh sadhaka berkembang! Jangan menganggap Mereka hanyalah logam & thangka, itu mengacuhkan!

Pratima Shadakshari Lokeshvara, Machig Labdron, Vajrayogini, milik Mahaguru, sangatlah indah. Perlu dapat merasakan Mereka barulah sungguh-sungguh berpikiran murni! Berpikiran murni terhadap Mulacharya, itu barulah merupakan ekasarana! 

Om Mani Padme Hum

Padmakumara Padmabodhisattva

Padmakumara Padmabodhisattva
(Vajra Acarya Guru Rinphoce Lian Shen)

Pertama-tama memberikan penghormatan dan sembah sujud yang setinggi- tingginya kepada Mula Guru Yang Mulia Vajra Acarya Guru Rinphoce Lian Sheng, sembah sujud kepada para Guru Silsilah Zhen Fo Zhong diantaranya Yang Mulia Bikhsu Liao Ming, Yang Mulia Gyalwa Karmapa XVI, Yang Mulia Guru Sakya Zheng Kong dan Yang Mulia Guru Tubhten Dhargye, sembah sujud kepada seluruh Yidam, sembah sujud kepada seluruh Buddha, Bodhisattva, Mahasattva, Dharmapala dan seluruh Dewa yang ada di altar mandala.

Malam ini kita berlatih 'Sadhana Yidam Padmakumara'. Kita tidak bisa melihat Padmakumara sebagai anak kecil, kumara (bocah) melambangkan bodhisattva, jadi merupakan 'Padmabodhisattva'. Mengapa kumara melambangkan bodhisattva? Sebab, kumara itu sangat polos, sangat tak bersalah. Kata 'Tong Zi' (kumara) ini, di dalam sutra sudah disebut-sebut. Yang disebut kumara, yang disebut 'Da Shi', sesungguhnya, semuanya artinya adalah bodhisattva.
Sifat hati bodhisattva, selain ingin menyadarkan diri sendiri, juga ingin menyadarkan yang lain. Setelah diri sendiri tersadar, masih ingin menyadarkan orang lain; bodhisattva adalah spesialis penolong semua makhluk, mengorbankan diri sendiri, yakni upeksha (kerelaan) apramana (tak terhingga).

Tapi,Mudita(kebahagiaan empatik)* Apramana, Maitri(kasih sayang) Apramana, Karuna(belas kasihan) Apramana, Upeksha Apramanasemuanya
adalah pengembangan bodhicitta, mencakup 'perbuatan bodhi' dan 'ikrar bodhi'. Asalkan dapat melakukannya, semua harus membantu semua makhluk, hanya ada memberi, tak mengharapkan pembalasan apapun, itu barulah 'sifat hati Padmakumara'.
*Yaitu turut berbahagia atas kebahagiaan orang lain

Orang dewasa melihat lukisan, bisa melebur ke dalam lukisan. Tetapi, kumara pergi melihat pameran lukisan, ia tak ada niat melihat lukisan, ia hanya berjalan melaluinya, melihat-lihat, tak dapat muncul kesan apapun, hatinya seluruhnya tanpa niat. Jadi ada sebuah perumpamaan: 'kumara melihat lukisan'. Artinya adalah: ia hanya berlalu melihat-lihat urusan dunia fana tanpa ada pikiran, kemudian tak menaruhnya di dalam hati. Urusan dunia fana tidak ditaruh dalam hati, inilah hati kumara. Anak kecil kebanyakan seperti ini.

Kumara yang disebut di dalam sutra, sama sekali bukan benar-benar anak kecil, melainkan Dia mempunyai hati seorang bayi, yaitu bodhisattva dengan hati bayi, jadi disebut kumara. Maka dari itu, kumara yang dibicarakan di dalam sutra disebut juga bodhisattva.

Buddha dulu juga menjadi kumara dalam banyak kehidupan! Di dalamJataka* 》, Buddha pernah menjadi kumara yang bajik dan bijak, juga pernah disebut 'Xue Shan Tong Zi'(Bocah Gunung Salju). Dia pernah disebut 'kumara' dalam berkali-kali kehidupan.

Oleh sebab itu, Padmakumara bukanlah yang biasa disebut bocah atau anak kecil. Kalian mengukir Padmakumara menjadi wujudbaby, sangat mirip anak kecil, supaya ketika orang melihat, hatinya jadi sangat gembira, ini juga baik. Mahaguru setiap melihat anak kecil, hati selalu menjadi sangat gembira, melihat orang dewasa, hati masih sangat gembira.

Karena Mahaguru melihat anak kecil dengan hati sendiri, jadi merasa anak kecil sangat molek. Saat melihat orang dewasa, diri sendiri dengan hati kumara melihat orang dewasa, setiap orang dewasa sangat molek. Hari ini saya mewakili Mahaguru memberitahu semua orang, Padmakumara bukanlah anak kecil yang sangat kecil. Tapi mengukir-Nya menjadi mirip seperti anak kecil, juga bisa membuat hati orang tertawa, sangat baik.
*untaian kelahiran bodhisatva (Kumpulan kisah tentang Sang Buddha sebelum menitis menjadi Pangeran Siddharta Gautama.)

Kita harus bisa belajar menjadi hati Padmakumara hati bagaikan seorang bocah, hati yang polos tidak melekat pada urusan dunia fana, hati yang memiliki Mudita Apramana(kebahagiaan empatik yang tak terhingga), Maitri(kasih sayang) Apramana(kasih sayang yang terterhingga), Karuna Apramana(belas kasih yang tak terhingga), dan Upeksha Apramana (Kerelaan tak terhingga). Dengan begitu kita dapat mengembangkan bodhicitta.

Ingat, kita dapat melakukannya, semua harus membantu semua makhluk, hanya ada memberi, tak mengharapkan pembalasan apapun, itu barulah 'sifat hati Padmakumara'.

Semoga semua makhluk berbahagia 

Om Mani Padme Hum 

Konsentrasi Samadhi

Konsentrasi Samadhi

(Vajra Acarya Guru Rinphoce Lian Shen)

Pertama-tama memberikan penghormatan dan sembah sujud yang setinggi-tingginya kepada Mula Guru Yang Mulia Vajra Acarya Guru Rinphoce Lian Sheng, sembah sujud kepada para Guru Silsilah Zhen Fo Zhong diantaranya Yang Mulia Bikhsu Liao Ming, Yang Mulia Gyalwa Karmapa XVI, Yang Mulia Guru Sakya Zheng Kong dan Yang Mulia Guru Tubhten Dhargye, sembah sujud kepada seluruh Yidam, sembah sujud kepada seluruh Buddha, Bodhisattva, Mahasattva, Dharmapala dan  seluruh Dewa yang ada di altar mandala.

Bicara tentang konsentrasi, yang namanya "samadhi" adalah samadhi paling awal yang mulai dipelajari oleh sadhaka disebut "dhyana pertama".

Ketika Anda dapat berkonsentrasi penuh, disebut dengan "dhyana pertama", yang satu ini sudah sangat sulit. Berikut cara memasuki "dhyana pertama", ketika sadhaka sedang bermeditasi, visualisasikan suatu benda, Anda harus berkonsentrasi pada benda tersebut, misalnya bervisualisasi mata ketiga dari Dewa Vajra, maka Anda cukup bervisualisasi mata ketiga-Nya saja, sadhaka berkonsentrasi penuh pada mata-Nya, bila Anda terus berkonsentrasi tanpa berubah sedikit pun, dapat diam selama beberapa menit, itu sudah sangat luar biasa, sepuluh menit saja tidak berubah sudah sangat luar biasa, kondisi ini sudah hampir mendekati "dhyana pertama", demikianlah "dhyana pertama".

Ketika Anda sedang menekuni homa, apakah Anda bervisualisasi adinata bersama dengan Anda?

Apakah Anda bervisualisasi api bersama dengan Anda? Di dalam api terdapat sadhaka dan adinata, ini melambangkan Dewa Agni, adinata, dan sadhaka berada di dalam api, bila Anda dapat menekuni Homa dengan cara demikian, Anda justru telah memasuki "dhyana pertama".

Sutra Raja Agung sangat singkat, beberapa menit saja sudah selesai dibaca. Biasanya orang membaca sekali Sutra Raja Agung Avalokitesvara, apakah tidak ketinggalan satu kata pun?

Tadi kalian membaca Sutra Raja Agung Avalokitesvara, apakah Anda tidak ketinggalan satu kata pun? Memang mulut mengeluarkan suara, apakah pikiran Anda tidak memikirkan hal yang lain, lalu satu paragraf ketinggalan?

Dalam waktu yang sangat singkat, kita membaca Sutra Raja Agung Avalokitesvara, membaca semua nama Buddha, membaca "Namo Fo Namo Fa Namo Seng, Foguo Youyuan, Fofa Xiangyin", "Neng Mie Shengsiku Xiaochu Zhu Duhai", demikian juga dengan membaca mantra Pengikis Karma Buruk dari Saptabuddha, tidak ada satu kata pun yang ketinggalan, Anda dapat benar-benar mencamkan setiap kata dalam benak Anda, sangat sulit.

Samadhi sangat sulit, konsentrasi sangat sulit. Guru Zen Nanquan berkata, "Ketenangan adalah kebenaran, ketekunan adalah kebenaran." Pengertian dari ketekunan adalah sadhaka terus berkonsentrasi pada "satu", tidak akan timbul "dua", inilah samadhi.

Bila Anda dapat berkonsentrasi saat bekerja, itulah samadhi, bila tingkat konsentrasi Anda sudah tinggi, itulah "dhyana pertama"; memasuki "dhyana kedua", pikiran Anda sama sekali tidak berubah; memasuki "dhyana ketiga", Anda akan melihat semua fenomena hal ikhwal, semua wujud asli akan muncul di dalam "dhyana ketiga"; memasuki "dhyana keempat", pikiran Anda tidak ada lagi sama sekali, ketenangan dan kepadaman sepenuhnya (nirvana).

Bagi Anda mungkin samadhi kelihatannya gampang, setiap kali kita kebaktian dikatakan "memasuki samadhi", lalu Sembilan Tahap Pernapasan Buddha pun dimulai, tahap pertama, tahap kedua, tahap ketiga, tahap keempat..... tahap ketujuh sampai tahap kesembilan.

 Mengapa Anda semua diminta melatih Sembilan Tahap Pernapasan Buddha?

Sebab Sembilan Tahap Pernapasan Buddha justru mengajarkan Anda "dhyana pertama"!

Bila pikiran Anda sebagai sadhaka dapat terus fokus pada pernapasan Anda, masuk dari sini keluar dari situ (pernapasan) berputar ke sana, kemudian masuk dan keluar lagi, kemudian masuk dari kedua sisi sampai ke atas, (lubang ubun-ubun) jangan sampai tembus, kemudian keluar dari lubang hidung, selanjutnya gantian lagi, 9 kali berturut-turut, semua ini justru sedang melatih potensi samadhi Anda.

Bila Sembilan Tahap Pernapasan Buddha terus ditekuni, asalkan berlatih setengah jam saja, itu sudah sangat bagus! Fenomena konsentrasi pun muncul, Anda pun bisa memasuki tahap tidak terpengaruh.

Pada umumnya, jarang sekali Sembilan Tahap Pernapasan Buddha dapat dilakukan secara lengkap. Apakah pada saat Sembilan Tahap Pernapasan Buddha tadi, Anda benar-benar melakukan visualisasi yang sangat lengkap, prana masuk lalu keluar kemudian masuk lagi, kemudian keluar lagi, 9 tahap berturut-turut, Anda sama sekali tidak memikirkan yang lain, malah pikiran Anda bergerak sesuai prana, silahkan angkat tangan.

Ada dua orang. Ini saja sudah sangat lumayan.
Bagaimana melatih samadhi? Biasanya dhyana pertama, sadhaka bisa stabil dalam waktu 7 hingga 10 menit, sama sekali tidak memikirkan yang lain, itu sudah sangat lumayan. Banyak cara dan manfaat samadhi, samadhi tidak berarti mencapai kebuddhaan, namun lewat samadhi kita dapat memperoleh pengetahuan mencapai kebuddhaan, prajna Buddha bisa diperoleh lewat samadhi. Oleh karena itu, seorang sadhaka harus menekuni samadhi. Sebab, samadhi sangat penting. Samadhi membuat pikiran Anda tidak galau. Sebab, begitu pikiran manusia galau, ia tidak dapat melakukan samadhi lagi, begitu pikiran galau, hal apapun tidak akan berhasil.

Untuk mencapai keberhasilan dalam belajar Agama Buddha harus stabil,  stabil berasal dari sila. Bila mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran berhenti, barulah bisa stabil, karena dengan adanya kestabilan, seseorang baru akan menghasilkan kebijaksanaan mencapai kebuddhaan; dengan adanya kebijaksanaan mencapai kebuddhaan, seseorang baru dapat memahami hati dan menyaksikan Buddhata di alam samadhi. Sampai dhyana keempat, walaupun belum dapat dianggap mencapai kebuddhaan, namun sadhaka datang dan pergi seperti ini, dari dhyana pertama, dhyana kedua, dhyana ketiga, dhyana

keempat, dari dhyana keempat, dhyana ketiga, dhyana kedua, dhyana pertama, selanjutnya keluar dari samadhi, bila Anda datang dan pergi seperti ini, benih kebiasaan buruk dari sadhaka akan hilang dengan sendirinya.

Sekali benih kebiasaan buruk dari sadhaka hilang, dengan sendirinya sadhaka akan mencapai keberhasilan, Kebenaran Sejati akan muncul, Buddhata pun benar-benar muncul. Oleh karena itu, samadhi juga disebut "dhyana keharuman", "dhyana keharuman" merujuk pada sadhaka terus mengasapi sifat dan kebiasaan yang tidak baik dengan keharuman, mengasapi bau yang tidak sedap, maka sifat dan kebiasaan yang baik pun akan muncul.

Lewat samadhi, sadhaka bisa memperoleh banyak Dharma, banyak Dharma Tantra diperoleh lewat samadhi. Baik tradisi Sutra, tradisi Tantra, maupun non Buddhisme, semuanya wajib menekuni samadhi.

Samadhi sangat penting. Dhyana keharuman sangat nyata. Sakyamuni Buddha pun telah mengalami dhyana pertama, dhyana kedua, dhyana ketiga, dhyana keempat, sampai akhirnya Beliau memperoleh pencerahan agung, barulah mengetahui apa itu Kebenaran Sejati, mengetahui apa itu Buddhata.

Sadhaka perlu memasuki samadhi dalam mengerjakan hal apapun. Tidak hanya meditasi saja baru disebut sebagai samadhi. Contohnya,  seseorang sedang mempelajari komputer, berarti ia sedang memasuki samadhi; menarikan tarian pita, berarti ia sedang memasuki samadhi; sewaktu ia sedang berdiri terbalik, berarti ia sedang memasuki samadhi. Berdiri terbalik justru lebih membutuhkan konsentrasi, tubuhnya harus sangat seimbang, ia konsentrasi pada keseimbangannya, begitu ia berdiri terbalik 7 hingga 10 menit, berarti ia telah memasuki dhyana pertama; berdiri terbalik setengah jam, berarti ia telah memasuki dhyana kedua.

Asal tahu saja bahwa samadhi dan tidur sangat mirip, samadhi agak menyerupai tidur.

Biasanya orang tidur dalam keadaan berbaring, mata terpejam, ruangkan sedikit gelap, tanpa suara, entah apa yang terjadi, tiba-tiba sudah tertidur!

Demikian juga dengan samadhi.

Ketika perhatian Anda sedikit terpusat, sadhaka tidak menghiraukan lagi kejadian di sekitarnya, semua kerisauan dilupakan, dilupakan, dilupakan, apapun dilupakan, Anda pun telah memasuki kondisi samadhi. Oleh karena itu, sungguh sulit mengajarkan samadhi.

Sebab Anda sendiri bahkan tidak tahu bagaimana Anda tidur, sungguh, bagaimana manusia tidur! Yaitu berbaring lalu mata terpejam, jika ada kerisauan Anda tidak bisa tidur. Asal tahu saja, bila ada kerisauan Anda tidak bisa tidur,

Anda berpikir banyak hal juga membuat Anda sama sekali tidak bisa tidur; lalu bagaimana Anda bisa tertidur. Anda pun tidak bisa menjelaskannya!

Tentu ada caranya! Anda harus berkonsentrasi pada satu, yaitu konsentrasi pada satu hal, tiba-tiba Anda sudah masuk, Anda pun mencapai kondisi lupa diri. Lupa diri masih belum termasuk samadhi yang sesungguhnya, lupa diri masih sebatas baru mulai saja. Makanya, banyak cara bagi kita belajar Agama Buddha, Anda semua tahu tiga jenis pelajaran anasrava dari sila, samadhi, dan prajna.

Mahaguru mengerjakan hal apapun dengan sangat serius, contohnya Mahaguru memperagakan Tinju Taiji, Mahaguru melakukannya dengan sangat serius. Sungguh!

Mahaguru terus memikirkan bagaimana memperagakannya. Bagaimana mengapresiasikan diri ke dalam musik. Bagaimana memperagakan gerakan tangan dan kaki. Bagaimana supaya gerakannya bagus.

Mahaguru terus memikirkannya, sehingga perhatian Mahaguru sangat terpusat. Demikian juga dengan hal lain yang Mahaguru lakukan, perhatian Mahaguru sangat terpusat, Mahaguru mau lepas langsung lepas, Mahaguru mau berhenti langsung berhenti. Ini semua adalah kondisi memasuki samadhi.

Oleh sebab itu, ajaran Tantra memiliki banyak cara memasuki samadhi. Misalnya bersadhana, kalian harus memusatkan perhatian Anda, dari awal hingga sadhana selesai, "Om Bulin".

Kemudian, japa tiga kali Mantra Sataksara, yakni menambal kekurangan atau pikiran beralih ke tempat lain selama menekuni satu kali sadhana. Pada prinsipnya, inilah manfaat menjapa Mantra Sataksara.

Jadi, selama sadhaka menekuni satu kali sadhana, Anda dapat memusatkan pikiran Anda dari awal hingga akhir tanpa ketinggalan satu kata pun, tanpa ketinggalan satu pikiran pun, tanpa ketinggalan satu visualisasi pun, sadhaka memang sedang menekuni sadhana ini, jika pikiran tidak bercabang, itu sangat luar biasa. Berarti sadhana tersebut adalah pemberkatan dari adinata. Barusan kita menjalankan satu kali kebaktian, apakah kalian berhasil mencapai kondisi di mana satu pikiran pun tidak berubah?

Sang Buddha sangat luar biasa, Beliau duduk sangat lama di bawah Pohon Bodhi, pikiran-Nya terus terpusat. Ada sesosok dewa di bawah Pohon Bodhi, namanya Raja Pohon Bodhi, ketika Sang Buddha keluar dari samadhi, Beliau melakukan percakapan dengan Raja Pohon Bodhi, Sang Buddha mengatakan pada Raja Pohon Bodhi bahwa selama berhari-hari, pikiran Sang Buddha tidak berubah sedikit pun.

Dipikir-pikir, mencapai kebuddhaan tidaklah mudah, hanya samadhi saja membuat sadhaka menekuninya selama turun temurun.

Sakyamuni Buddha bahkan pernah terlahir menjadi Dewa Ksanti selama 500 kehidupan, menurut Anda selama apakah itu? Daya samadhi yang dihasilkan Sang Buddha sangat luar biasa.

Semoga dalam tahap menjalankan bhavana, semua orang dapat meneladani semangat dari Sakyamuni Buddha, latihlah potensi samadhi dengan sebaik-baiknya.

Om Mani Padme Hum.

Empat Penyebab Seseorang Kehilangan Keyakinan

Empat Penyebab Seseorang Kehilangan Keyakinan

(Vajra Acarya Guru Rinphoce Lian Shen)

 Pertama-tama memberikan penghormatan dan sembah sujud yang setinggi-tingginya kepada Mula Guru Yang Mulia Vajra Acarya Guru Rinphoce Lian Sheng, sembah sujud kepada para Guru Silsilah Zhen Fo Zhong diantaranya Yang Mulia Bikhsu Liao Ming, Yang Mulia Gyalwa Karmapa XVI, Yang Mulia Guru Sakya Zheng Kong dan Yang Mulia Guru Tubhten Dhargye, sembah sujud kepada seluruh Yidam, sembah sujud kepada seluruh Buddha, Bodhisattva, Mahasattva, Dharmapala dan  seluruh Dewa yang ada di altar mandala.

Nagarjuna Bodhisattva Menjelaskan Tentang Penyebab Seseorang Kehilangan Keyakinan, ada beberapa masalah yang ingin Mahaguru sampaikan pada Kita semua. Nagarjuna Bodhisattva mengatakan bahwa pada dasarnya manusia mempunyai pikiran yang baik, mempunyai akar yang baik, namun mengapa manusia bisa kehilangan keyakinannya? Ada penyebabnya, pada dasarnya para insan mempunyai Buddhata, begitu bertemu dengan Buddhadharma mereka akan percaya, namun para insan juga bisa kehilangan keyakinannya, mengapa? Bukan hanya orang biasa saja bisa kehilangan keyakinan, bahkan Dharmaduta pun bisa kehilangan keyakinan.

Pertama, kekuatan keyakinannya tidak bisa mengalahkan godaan uang. Nagarjuna Bodhisattva mengatakan bahwa seorang Dharmaduta memang mempunyai keyakinan, namun kekuatan keyakinannya tidak mampu mengalahkan godaan uang, dengan kata lain kekuatan uang lebih besar daripada kekuatan keyakinannya. Bersadhana adalah semacam komitmen jangka panjang, belum tentu kita bisa segera melihat dan menyaksikan, namun godaan uang sangat kuat, melebihi kekuatan keyakinan, ketika godaan uang datang, bukan hanya umat biasa kehilangan keyakinan, bahkan Dharmaduta pun kehilangan keyakinan. Mohon semua umat se-Dharma perhatikan hal yang satu ini.

Buddhadharma sungguh sulit sekali terdengar, bila kita telah menemukan Buddhadharma, kita jangan sampai kehilangan keyakinan kita, sehebat apapun uang menggoda kita, sebagai sadhaka seharusnya mendapatkan uang dengan cara yang benar.

Kedua, menurut Nagarjuna Bodhisattva bahwa penyebab kehilangan kepercayaan adalah "benci dan cinta". Kita selalu mengira bahwa cinta adalah cinta, benci adalah benci. Namun kita tidak pernah tahu bahwa sesungguhnya cinta sama dengan benci, cinta dan benci adalah sama. Semakin dalam cinta, semakin dalam pula kebencian, cinta dan benci adalah dua hal yang dapat membuat seseorang kehilangan keyakinannya. Misalnya mata Mahaguru tidak memandang Anda, Anda tiba-tiba kecewa, lalu Anda pun kehilangan keyakinan Anda, Mahaguru akan sedih karenanya.

Mahaguru memandang semua insan adalah sederajat. Jadi sebagai sadhaka harus bersikap wajar terhadap cinta dan benci, dipikir-pikir, cinta itu sangat sementara; memang, seketika itu sangat benci! Tapi setelah waktu telah lama berlalu, kebencian pun akan berkurang, kebencian juga sementara. Sadhaka harus merenungkan bahwa cinta maupun kebencian adalah fenomena yang sementara.

Sebenarnya cinta dan benci adalah sementara, cinta adalah sementara, benci juga sementara, jadi jangan sampai Anda kehilangan keyakinan Anda. Kalian semua bersadhana bersama-sama di Vihara Vajra Dharmaratna, ada yang suka dengan siapa, ada yang tidak suka dengan siapa, semua ada di sini, tapi kita harus bersikap sewajarnya saja, jangan mengambil langkah ekstrim.

Kita harus jaga keyakinan kita, jangan karena kita benci dengan seseorang, kita lantas beranjak pergi: jangan karena kita menyukai seseorang dan kita tidak mendapatkan cintanya, kita pun beranjak pergi.

Jangan sampai terjadi, sebab Buddhadharma sulit terdengar. Sadhaka tidak cocok dengan suatu perkumpulan, lantas meninggalkan perkumpulan itu dan tidak pernah datang lagi, itu tidak baik.

Ketiga, tidak bijaksana dalam membedakan. Mahaguru mengajarkan siswa Mahaguru berbuat baik, Dharma Tantra Zhenfozong kita sangat luar biasa. Mahaguru tidak pernah mengajarkan siswa-siswa Mahaguru untuk mencuri, berzinah, berdusta, dan mabuk-mabukan. Jadi, seorang siswa harus bijaksana dalam membedakan, jangan asal mendengar komentar negatif tentang guru Anda, lalu Anda kehilangan keyakinan Anda. Itu sangat disayangkan.

Anda hanya dapat melihat satu sisi saja, akibatnya Buddhadharma yang sejati tidak dapat Anda dengarkan lagi, Anda tidak mempunyai kebijaksanaan untuk membedakan apakah guru Anda benarbenar memiliki Dharma sejati, dapat menuntun Anda terlahir di alam suci, dan mencapai Buddhaloka.

Anda hanya melihat permukaan saja, Jika sadhaka tidak bijaksana dalam membedakan, Anda sama sekali tidak tahu siapa MahaLama yang benar-benar memiliki Dharma sejati dan siapa pula dukun! Mahaguru bersadhana dan bermeditasi setiap hari, mengapa? Karena Mahaguru tahu Buddhdharma sangat sulit terdengar, Mahaguru setiap hari melafalkan Sutra Raja Agung dan nama Buddha, tiada hari tanpa bersadhana dan bermeditasi, Mahaguru tidak melakukannya untuk dilihat orang lain, hanya langit yang tahu. Setiap kali Mahaguru bernamaskara pada mandala dengan push-up, Mahaguru melakukannya di rumah Mahaguru, siapa yang lihat!

Mahaguru memahami pikiran, benar-benar memahami pikiran, benar-benar bermeditasi, di dalam meditasi Mahaguru benar-benar melihat Buddhata – memahami pikiran dan menemukan jati diri.

Keempat, penyebab lain seseorang kehilangan keyakinan menurut Nagarjuna Bodhisattva adalah"amarah. Amarah adalah mengumbar kemarahan, amarah akan membuat seseorang kehilangan keyakinan, jadi setiap sadhaka harus memperhatikan tutur kata dan perbuatannya sendiri, bila hari ini Anda marah besar pada seorang umat se-Dharma,

umat se-Dharma tersebut akan tidak tahan lalu kehilangan keyakinannya; seorang Dharmaduta harus memperhatikan emosinya sendiri, jangan marah-marah; sebab ini akan mengundang komentar negatif dari orang-orang kalangan luar bahwa Dharmaduta Zhenfozong tidak mempunyai pembinaan diri yang baik, ia pasti tidak melatih diri. Hal ini akan menyebabkan orang lain kehilangan keyakinan.

Bila ada seseorang mau mengeluarkan auman singa, sebenarnya Anda boleh menyampaikan alasan Anda dengan suara yang lembut, dengan cara menasihati, jangan pernah membuat orang kabur karena auman Anda.

Anda harus mengutarakan alasan Anda dengan suara yang sangat lembut, bila Anda murka justru akan menyebabkan orang lain semakin tidak percaya pada Buddhadharma. Itu karena pembinaan diri Anda masih kurang, seorang sadhaka sering mengajari orang lain bersadhana, namun dirinya sering pula marah-marah, bagaimana orang lain bisa bersadhana bersama Anda atau menuruti Anda, justru sebaliknya akan membuat orang lain kehilangan keyakinan. Ini adalah penyebab seseorang kehilangan keyakinan menurut Nagarjuna Bodhisattva,
  • pertama adalah keserakahan;
  • kedua adalah cinta dan benci,
  • ketiga adalah bijaksana dalam membedakan,
  • keempat adalah amarah.
 Keberhasilana dalam pelatihan diri kunci pada keyakinan/sradha. Apabila tanpa keyakinan maka pelatihan diri sama dengan sebuah tong kosong alias tiada hasil. Oleh sebab itu kita harus bisa memahami segalanya. Pertama kita harus bisa memahami Mulacarya kemudian kita harus memahami Ajaran Sang Buddha sehingga dengan demikian kita bisa memiliki keyakinan/sradha yang kuat. Akan tetapi harus diingat keyakinan yang kuat bukannya membuat diri kita fanatik akan Ajaran Sang Buddha. Fanatik bukan lah sebuah jalan menuju pembebasan. Fanatik adalah sebuat jalan yang sesat. Ajaran Sang Buddha adalah ajaran welas asih oleh sebab itu kita harus bisa memahami bukan hanya kulit akan tetapi memahami sampai di dalam-dalamnya.
 
Semoga kita di berkati keyakinan yang kuat sehingga kita semua dapat mencapai keberhasilan dalam melatih diri.
 

Terima kasih semuanya.

Om Mani Padme Hum